Dituding ‘Main’ Bisnis PCR, Luhut Binsar Buka Suara, Sampaikan Hal Serius Ini

Dituding ‘Main’ Bisnis PCR, Luhut Binsar Buka Suara, Sampaikan Hal Serius Ini

5 November 2021 0 By Redaksi

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait kabar keterlibatannya dalam bisnis pengadaan alat tes PCR.

“Saya tidak pernah sedikit pun mengambil keuntungan pribadi dari bisnis yang dijalankan PT Genomik Solidaritas Indonesia,” tulis Luhut pada fitur Instagram Story di akun pribadinya, Kamis (4/11).

Dia menegaskan PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) tidak bertujuan untuk mencari profit bagi para pemegang saham.

Sebab, Indonesia memiliki kendala dalam penyediaan alat tes Covid-19 untuk masyarakat pada masa awal pandemi 2020 lalu.

“Sesuai namanya, Genomik Solidaritas Indonesia, memang ini adalah kewirausahaan sosial sehingga tidak sepenuhnya bisa diberikan secara gratis,” lanjut Luhut.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) itu juga menjelaskan partisipasinya melalui Toba Sejahtera adalah bentuk bantuan yang diinisiasi oleh Grup Andika, Adaro, Northstar, dan lain-lain.

Kemudian, lanjut Luhut, terbentuk kerja sama untuk membantu penyediaan fasilitas tes Covid-19 dengan kapasitas besar.

“Bantuan melalui perusahaan tersebut merupakan upaya keterbukaan yang dilakukan sejak awal,” tambah dia.

Politikus Patrai Golkar itu juga menyebutkan keuntungan GSI justru digunakan untuk memberikan tes swab gratis kepada masyarakat, tenaga kesehatan, dan RSDC Wisma Atlet.

“Saya juga selalu mendorong agar harga tes PCR bisa diturunkan sehingga dapat terus menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” tutur dia.

Luhut Binsar mengungkapkan dirinya ikut mendorong agar penggunaan tes antigen bisa diterapkan sebagai syarat penumpang pada beberapa moda transportasi yang sebelumnya mewajibkan penggunaan tes PCR.

“Sejujurnya saya tidak pernah terbiasa untuk melaporkan atau menunjukkan segala bentuk perbuatan yang bersifat donasi seperti ini,” ungkapnya.

Meski begitu, Luhut merasa perlu menjelaskan hal ini karena dianggap ada disinformasi yang mengakibatkan kegaduhan dan ketakutan di tengah masyarakat.

(Ef/Ha/Gs/Montt/Jpnn).