Depan Panglima Kodam, Jenderal TNI Andika Marah Ada Iuran Gelap

Depan Panglima Kodam, Jenderal TNI Andika Marah Ada Iuran Gelap

3 Juni 2021 0 By Tim Redaksi

KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa menerima laporan adanya penarikan iuran dalam penyelenggaraan pendidikan Akademi militer di Angkatan Darat. Laporan tersebut membuat Andika marah.

Di hadapan para Panglima Kodam, Andika menegaskan tak ingin lagi ada laporan mengenai penarikan iuran.

 

 

Dia pun akan bertindak tegas kepada para komandan jika penarikan iuran masih dilakukan.

Iuran Tak Ada di Pendidikan Zaman Dulu

Andika Perkasa nampak kecewa mendengar adanya iuran kepada calon TNI saat menjalankan pendidikan militer.

Dia bahkan membandingkan Pendidikan Militer di eranya kala itu yang bebas dari iuran.

“Saya tidak ingin lagi ada iuran, apa pun alasannya. Kita dulu waktu pendidikan, pendidikan pertama enggak ada itu iuran-iuran. Dinas Asops (TNI) dalam hal ini sudah merencanakan, ada uang makan, ada uang saku atau apa pun namanya. Sebelum dilantik sudah ada,” kata Andika seperti dikutip dari laman Instagram akun @jayalah.negriku.

Tidak Memanjakan TNI

Menurutnya, zaman dulu tak memanjakan calon tentara.

Kurangnya logistik perorangan, menjadi salah satu bentuk latihan.

Sehingga tidak bisa menjadi alasan bagi para oknum untuk meminta iuran.

“Itu semua sudah cukup, bahwasanya sepatunya kurang ya enggak apa-apa. Bisa kita dulu. Dan itu menjadi bagian dari cara kita berlatih. Kita nyuci malam-malam setelah kegiatan, jangan maunya cadangannya banyak,” terang Andika.

Para Komandan Ikut Tanggung Jawab

Andika mengatakan, para komandan di setiap distrik harus ikut bertanggung jawab jika masih ada iuran.

“Tapi yang lebih penting, jangan ada anggapan, seolah-olah iuran ini menjadi keharusan, dan mungkin ada yang memanfaatkan.

Jadi kalau masih ada iuran apa pun bentuknya di Rindam. Saya akan menganggap Danrindam tahu.

Ada iuran di Pusdik-Pusdik, saya akan menganggap Danpusdik tahu.

Di Secapa saya juga dapat laporan iuran, berarti Danmen (Komandan Resimen) tahu,” tegas Andika.

Tentara itu Sebagian Besar Orang Menengah ke Bawah

Andika berharap kasus iuran itu bisa segera ditindaklanjuti.

Hal ini sebagai upaya memperbaiki kondisi TNI AD.

“Di Akmil, di Seskoad kita harus perbaiki. Enggak perlu dikoordinir, kalau mereka mau jajan, buka masing-masing. Enggak usah pakai dikoordinir, sehingga enggak ada ‘petualang-petualang’ (oknum peminta iuran),” ujar Andika.

Apalagi seperti diketahui, bahwa sebagian besar calon tentara itu berasal dari keluarga menengah ke bawah.

Sehingga terlalu tega jika masih diminta iuran.

“Kalau saya masih dengar ada laporan tadi (iuran), saya anggap Komandannya tahu. Berarti akan ada konsekuensi. Sudahlah, kasihan yang mengikuti pendidikan itu enggak semuanya orang berada. Kalau berada, ngapain jadi tentara. Mayoritas mereka dari menengah ke bawah,” tegasnya.

Ancaman Bagi Komandan

Andika memberi waktu dua minggu kepada para komandan untuk segera bertindak terkait penarikan iuran kepada calon tentara.

Dia meminta para komandan bergerak menelusuri sampai ke akarnya.

“Kalau masih saya terima laporan, awas. Saya kasih waktu dua minggu, masing-masing Komandan tadi beresin, telusuri sampai ke bawah. Siap-siap saja dan jangan ragukan keseriusan saya,” pungkasnya.

 

 

 

* (Montt/merdeka).