Kementerian Ini Akhirnya Ungkap Sumber Utama Polusi Udara, Asli Mengejutkan, Simak

Kementerian Ini Akhirnya Ungkap Sumber Utama Polusi Udara, Asli Mengejutkan, Simak

2 September 2023 0 By Tim Redaksi

METROONLINENTT.COM – Pemerintah menyampaikan bahwa polusi udara di Jakarta terjadi karena emisi gas buang dari transportasi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut kendaraan bermotor menjadi sumber utama pencemaran udara dengan kontribusi 44 persen.

Kemudian, sektor industri energi 25,17 persen, manufaktur industri 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen

Sementara itu, studi lembaga nirlaba justru menunjukkan hal sebaliknya, merujuk pada pengalaman saat masa pandemi.

Baca Juga:

Hartono Bersaudara Orang Paling Kaya di Indonesia, Sosoknya Mengejutkan

Kabar Duka, Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait Meninggal Dunia, Lihat

Berdasarkan kajian terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), transportasi memang menjadi salah satu sumber polusi.

Namun menurut CREA, pemerintah “terlalu melebih-lebihkan peran transportasi” dalam penyebaran polusi.

Mereka membuktikannya dengan membandingkan data tingkat polusi udara selama masa pandemi di mana sebagian besar pekerja menjalani WFH.

Melansir dari CNN, Sabtu (2/9/2023), WFH di wilayah DKI Jakarta berlaku mulai 12 Maret 2020.

Kemudian pada 30 Maret 2020, pemerintah mengumumkan darurat kesehatan nasional.

Kala itu, diterapkan pembatasan sosial yang lebih ketat, seperti menutup sekolah, tempat kerja, hingga membatasi pertemuan keagamaan di tempat ibadah.

Berdasarkan data Google Mobility Report, perjalanan kerja pada 2020 hingga 2022, yang merupakan periode utama pandemi Covid-19, meningkat sebesar 23 persen.

Sedangkan perjalanan ke mal dan lokasi perbelanjaan serta rekreasi lainnya meningkat sebesar 32 persen, dan perjalanan ke taman naik dua kali lipat.

Namun, menurut CREA, rata-rata tingkat PM2.5 di saat yang sama turun masing-masing 14 persen dan 20 persen di Jakarta Selatan dan Pusat.

PM2.5 merupakan jenis polutan dengan diameter di bawah 2,5 mikron.

Sumbernya adalah dari asap kendaraan bermotor, pabrik, dan juga hasil pembakaran lainnya.

Berdasarkan analisis CREA, dengan tujuan mengidentifikasi perubahan kualitas udara selama masa karantina pandemi Covid-19 di Asia Tenggara, WFH membuat tingkat polutan Nitrogen Oksida (NO2) di Jakarta menurun sekitar 40 persen dibandingkan tahun 2019.

Akan tetapi, studi yang sama menunjukkan tingkat PM2.5 tetap konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut CREA, ini “menunjukkan bahwa masalah polusi udara di kota ini sangat dipengaruhi oleh polutan dari daerah sekitar”.

Pengamatan lebih dekat terhadap lintasan massa udara yang tiba di Jakarta ketika tingkat PM2.5 mencapai puncaknya di stasiun pemantauan kualitas udara Kedutaan Besar AS di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Hasilnya “menunjukkan bahwa sebagian besar polusi selama periode tersebut dibawa dari pembangkit listrik tenaga batu bara ke Jakarta”.

Dengan fakta-fakta selama periode pandemi tersebut, CREA menyimpulkan bahwa WFH bukan jawaban untuk penanganan polusi.

“Pengurangan jumlah kendaraan terhadap lalu lintas selama Covid-19 dan WFH secara intuitif diyakini akan menurunkan polusi udara di Jakarta. Tetapi, data menunjukkan bahwa kebijakan WFH tidak banyak membantu mengurangi tingkat PM2.5,” jelasnya, dikutip dari laman forestdigest.com, Sabtu.

Berdasarkan data terbaru, CREA menyebut pencemaran udara di Jakarta tidak hanya karena emisi PM2.5.

Tetapi juga disebabkan oleh emisi polutan lain yang diubah menjadi partikel PM2.5 di udara, seperti emisi SO2 dan NOx.

Baca Juga:

Lagi Heboh, Rangka Motor Mudah Patah, Polisi Bilang Begini, Simak

Telkomsel Bawa Kabar Baik, Untuk Seluruh Pengguna di Indonesia, Mengejutkan

Sumber emisi SO2 yang dominan (93 persen) ada di sektor ketenagalistrikan.

Sedangkan transportasi merupakan sumber emisi NOx terbesar (56 persen), disusul oleh sektor ketenagalistrikan dan industri.

Sementara itu, pembakaran biomassa dan limbah merupakan sumber emisi PM terbesar, diikuti oleh transportasi.

Biomassa digabungkan dengan sektor pertanian, komersial, dan perumahan, dan bersama dengan pembakaran limbah, menghasilkan 47 persen emisi PM.

Baca Juga:

(Ber/Nes)