Begini Nasib Pria yang Berani Tampar Presiden

Begini Nasib Pria yang Berani Tampar Presiden

11 Juni 2021 0 By Tim Redaksi

BEGINI nasib pria asing yang nekat tampar Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menyapa kerumunan di tenggara Prancis pada Selasa (8/6/2021).

Emanuel Macron ditampar pria asing dalam sebuah kerumunan saat dia mendekati penghalang untuk bertemu dan berjabat tangan dengan pemilih.

Saat itulah, seorang pria berkaus hijau memegang sikunya dan mengucapkan beberapa patah kata lalu menampar Emanuel Macron.

Dalam peristiwa itu, pengawal Macron dengan cepat turun tangan dan dua orang ditahan setelah itu, kata pejabat setempat.

Pernyataan dari prefektur wilayah Drome menyebutkan detik-detik kejadian itu.

“Sekitar pukul 13:15 presiden masuk ke mobilnya setelah mengunjungi sekolah menengah, tetapi kembali karena penonton memanggilnya,” katanya.

“Dia pergi menemui mereka dan saat itulah insiden itu terjadi,” ujarnya.

Dari keterangan Kantor kejaksaan setempat dua pria berusia 28 tahun yang tinggal di wilayah itu sedang diinterogasi.

“Tetapi pada tahap interogasi ini, motif mereka masih belum diketahui,” katanya.

Serangan di Desa Tain-l’Hermitage di wilayah Drome memicu reaksi kemarahan di seluruh spektrum politik.

Pertanyaan pun bermunculan atas tur mengunjungi masyarakat yang oleh Macron disebut sebagai safari untuk mendengarkan dan mengetahui situasi di masyarakat.

“Politik tidak akan pernah bisa menjadi kekerasan, agresi verbal, apalagi agresi fisik,” ujar Perdana Menteri Jean Castex kepada parlemen. Ia menambahkan, “melalui presiden, demokrasilah yang menjadi sasaran”.

Macron tetap melanjutkan perjalanannya setelah kejadian itu.

Seorang ajudan, yang menggambarkan peristiwa itu sebagai sebuah “usaha tamparan” meskipun rekaman video menunjukkan tangan pria itu sudah mengenai wajah presiden.

Diketahui dalam video insiden itu, seseorang terdengar berteriak “Ganyang Makronisme!”

Macron diprediksi mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua dalam pemilihan presiden tahun depan.

Jajak pendapat menunjukkan Macron unggul tipis atas pemimpin sayap kanan Marine Le Pen.

Macron ingin bertemu dengan para pemilih secara langsung setelah lebih dari satu tahun manajemen krisis selama pandemi Covid-19.

Pada Juli tahun lalu, Macron dan istrinya Brigitte dilaporkan telah dilecehkan secara verbal oleh sekelompok pengunjuk rasa saat berjalan-jalan dadakan melalui taman Tuileries di pusat kota Paris pada Hari Bastille.

Sesaat sebelum ditampar, Macron diminta untuk mengomentari pernyataan pemimpin sayap kiri Jean-Luc Melenchon akhir pekan lalu bahwa pemilihan tahun depan kemungkinan akan dimanipulasi.

“Kehidupan demokrasi membutuhkan ketenangan dan rasa hormat, dari semua orang, politisi, serta warga negara,” kata Macron.

Menanggapi peristiwa penamparan ini, para kritikus dan saingan politiknya yang paling sengit mendukung Macron Selasa.

Melenchon mengatakan dia bersamai “dalam solidaritas dengan presiden”, sementara Le Pen menyebut tamparan itu “tidak dapat diterima dan sangat tercela dalam demokrasi.”

Namun tamparan itu kemungkinan akan memicu perdebatan di Prancis tentang iklim politik yang dinilai merusak hanya dua minggu dari putaran pertama pemilihan regional dan 10 bulan dari pemilihan presiden April mendatang.

Kejadian yang dialami Marcon menginatkan peristiwa tahun 2011, presiden sayap kanan Nicolas Sarkozy mengalami ketakutan keamanan di barat daya Prancis ketika dia dicengkeram bahunya oleh seorang pegawai pemerintah lokal.

(Montt/Tribunnews)